Monday, July 23, 2012

Enjang Somantri : Bisa Jadi Lebih Baik dan Menjadi Yang Terbaik


Enjang Somantri : Bisa Jadi Lebih Baik dan Menjadi Yang Terbaik


Tekad, perjuangan, dan doa, dapat melahirkan kesuksesan yang melebihi harapan

Setiap hari berjalan kurang lebih 1 km. Dengan penuh semangat untuk belajar, Enjang Somantri kecil berangkat dari rumahnya menuju tempat ia menimba pendidikan dasar.
Lahir dalam sebuah keluarga yang tidak dapat disebut kaya, juga tidak dapat disebut miskin. Ia jalani hari dengan semangat belajar yang tinggi dan kesabaran. Tanggal 5 Oktober 1969 ia lahir. Tepat umur 6 tahun ia masuk ke SD Bojong, Pandeglang, Banten tempat ia memulai dunia belajarnya. Ia selalu menyisihkan sebagian besar dari uang jajannya untuk ditabung untuk membeli buku pelajaran. Ayahnya adalah seorang guru. Enjang selalu meminjam buku guru dari ayahnya itu untuk dipakai belajar setiap malam.Ya, karena dulu, setiap guru mempunyai sebuah buku untuk dipakainya materi saat pembelajaran.
Enjang mempunyai sifat yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia sangat semangat dalam belajar.Tak lupa ia beribadah sholat 5 waktu, tahajud, mengaji, dan puasa sunnah senin kamis, seperti yang diajarkan ayahnya. Selalu ia jaga semua hal itu, karena ia merasa hal itulah yang menolongnya sampai sekarang. Setiap malam ia belajar, sampai pernah suatu saat ia tidur dalam kamar, dengan buku pelajaran sebagai bantalnya. “Berusaha menjadi yang terbaik. Selalu ingin dan berharap menjadi yang terbaik” adalah cita-cita dan harapan Enjang. cita-cita dan harapannya itulah, yang mendorong Enjang rajin dan tekun belajar.
Lulus SD, ia melanjutkan ke SMP, yang masih berada di daerah Bojong. Sering saat pulang sekolah ia mengajak temannya untuk belajar bersama di rumahnya. Selalu setiap guru masuk ke kelas, Enjang sudah mengetahui terlebih dahulu apa yang gurunya akan ajarkan.
Salah satu kakaknya berkuliah di Bandung. Ayah Enjang meminta sang kakak untuk Enjang mencarikan sekolah favorit di kota itu. Karena tahu bahwa Bandung adalah ibukota Jawa Barat, Enjang berpikir bahwa sekolah di Bandung dapat meningkatkan kualitas dirinya. Syukurnya, ia lulus SMPdengan NEM 45,75 dari 5 mata pelajaran atau rata-rata nilai 9. NEM yang cukup tinggi. Dengan bermodal itulah Enjang mencoba menaklukan dunia pendidikan di Kota Kembang itu.
Perjuangan di Bandung
NEM yang tinggi membuat Enjang berhasil masuk ke salah satu SMA favorit, SMAN 5 Bandung. Ia merasa amat senang. Selama di Bandung, Enjang tinggal bersama kakaknya. Enjang mencoba untuk belajar disiplin. Waktu sekolah ia lebih utamakan. Untuk mengisi waktu luang, Enjang mengikuti kegiatan-kegiatan ekskul. “Berteman dengan yang baik, tidak ikut-ikut hal yang kurang baik,” begitu ucap Enjang tentang cara ia bertahan di lingkungan kota besar seperti Bandung.
Setelah agak lama tinggal di Bandung, Enjang ingin mencoba untuk hidup sendiri dan mandiri. Tepatnya kelas 2 SMA, Enjang sudah mulai hidup sendiri. Ia mrasa harus hidup mandiri. Kenapa? “Dengan keterbatasan, kita harus tetap maju,” jawab Enjang. “Kan punya cita-cita dan harapan untuk bisa jadi lebih baik dan menjadi yang terbaik,” jelasnya.
Dalam usahanya untuk mandiri, Enjang menafkahi dirinya dengan uang yang ayahnya kirim, juga dengan mencoba menjual, memberi les anak SD, coba menjadi supir angkot dan berjualan makanan di gasibu. Ia lakukan itu semua bersama teman-temannya.
Walaupun begitu, Enjang tetap fokus dalam belajar dan sekolahnya. Nilai sekolahnya tetap baik. Enjang juga terpacu untuk cepat lulus sekolah. Cita-cita dan harapannya yang memacunya untuk maju.
Enjang lulus SMA dengan rata-rata yang cukup baik. Ia lalu mencoba mendaftar ke ITB jurusan teknik kimia. Namun, ternyata jurusan itu tidak meloloskan Enjang. Ia pun berpikir, dan menyesal, “Seharusnya Teknik Sipil” ungkap dia. Ia pun lalu masuk ke Unpad terdaftar dalam jurusan Statistika. Ia kecewa, namun cita-cita dan harapannya yang membuat  dan memotivasi dia. Kesabarannya juga membuat ia menjalani kuliahnya itu.
Akhirnya, tujuan Enjang yaitu lulus sekolah, tercapai. Enjang pun bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya. Namun dengan tekad, semangat, cita-cita dan harapan yang kuat, Enjang berhasil menjalani hidupnya dengan baik. “Punya cita-cita, harapan, berusaha, dan berdoa.” adalah kunci bagaimana ia bisa sukses sampai sekarang.
Enjang sekarang bekerja di sebuah bank, sebagai IT Division Manager. Ia mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan jual beli dalam kantornya. Prinsip yang ia pegang sejak SD, membuat Enjang berhasil mencapai sesuatu yang lebih dari yang ia cita-citakan.
(Enjang Somantri, sosok inspirati bagi saya karena dia adalah orang yang cukup dekat dengan saya, sebab ia adalah ayah saya sendiri.)